Merupakan sebuah kelompok seni dan budaya LGBT muda yang melakukan pertunjukan tarian, operet, drag king, drag queen dan lain-lain sebagai upaya kampanye HAM LGBT. Kelompok ini dimulai pada tahun 2010 dan telah menampilkan berbagai pertunjukan di berbagai wilayah di Jakarta, Bandung dan Yogyakarta.

Sampai saat ini para anggota Anak Pelangi Club terus melakukan beberapa pertunjukan dan juga sempat mendukung perayaan International Day Against Homophobia (IDAHO) tahun 2012 di Jakarta.

Kongkow Lez merupakan kegiatan reguler tiap bulan pemutaran film dan diskusi santai untuk LBT muda yang diadakan IPP sejak tahun 2006 hingga tahun 2011. Kegiatan ini berupa pemutaran film mengenai isu lesbian dan kemudian dijadikan bahan diskusi bagi komunitas LBT muda. Narasumber dari kegiatan Kongkow Lez adalah para feminis, aktivis HAM, tokoh agama, penulis dan lain-lain sesuai dengan topik yang dipilih.

Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi ruang aman dan nyaman bagi komunitas LBT muda untuk saling berbagi pengalaman dan permasalahan keseharian mereka. Kegiatan ini telah berjalan selama 5 tahun dengan kota Jakarta sebagai tempat diadakanya Kongkow Lez, meskipun demikian banyak kaum LBT muda dari wilayah lain yang hadir, seperti Bandung, Jogja, Semarang bahkan dari Timor Leste. Catatan hasil dari Kongkow Lez kemudian dibukukan oleh IPP.

Lez School adalah program kursus singkat mengenai gender, seksualitas, feminisme, kepemimpinan perempuan dan lain-lain. Program ini sudah ada sejak tahun 2009. Fasilitator yang menjadi mentor dalam program ini adalah para feminis atau aktivis HAM, akademisi, para LBT muda dan lain-lain.

Dengan metode pengajaran youth friendly setiap peserta diharapkan mampu berpartisipasi aktif dan kreatif selama kelas berlangsung. Kegiatan ini tidak hanya dilakukan di dalam kelas tetapi juga ada program kunjungan yang berkaitan dengan materi yang diberikan.

iPlural adalah semangat perdamaian dalam keragaman yang diwariskan para pendahulu kita. Beberapa contoh kearifan lokal mengajarkan Tepo Seliro (tenggang rasa), Tanggung Renteng (saling membantu dalam sektor ekonomi), Piil Pasenggiri (harga diri dan perilaku baik untuk menjaga dan menegakkan martabat individu atau kelompok), Mosintuwu (gotong royong) dan Pela Gandong (hubungan kekerabatan antar lintas agama, suku dan adat).

iPlural merupakan jaringan yang ditujukan untuk meneruskan Pluralisme melalui TIK. Jaringan ini diinisiasi oleh Institut Pelangi Perempuan, Bayt Al Hikmah, Damar Lampung, Gamacca, dan LPPM Maluku.

Jaringan iPLURAL mulai diwacanakan tahun 2013 melalui beberapa pertemuan serta pelatihan pengembangan kapasitas di masing-masing wilayah kerja para anggota jaringan. Fokus kerja jaringan iPlural adalah penggunaan TIK dan keamanan digital untuk gerakan sosial, serta kampanye pluralisme melalui media TIK.

Pola pendekatan iPlural adalah memotivasi untuk meneruskan (forward) konten pluralisme atau keragaman, suku, ras agama dan kepercayaan Indonesia melalui TIK. Penggunaan teknologi disesuaikan konteks kapasitas masing-masing organisasi anggota jaringan. Konten-konten kampanye iPlural bersumber langsung dari masing-masing wilayah kerja dengan pendekatan sosial, politik dan budaya.

Saya (i) adalah bagian dari keberagaman (plural) di dunia ini. Ruang berbagi pendapat, pengalaman, cerita dan sejarah untuk perdamaian dalam keberagaman adat istiadat, suku, agama, kepercayaan, bahasa dan tradisi untuk meneruskan (forward) keindahan budaya Indonesia melalui media Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

Merupakan sebuah jaringan dan penelitian tentang hak internet dan seksualitas yang dikoordinasi IPP yang bekerjasama dengan Association for Progresive Communication (APC) yang merilis global projectnya Erotics. Jaringan internet ini dapat dilihat di www.eroticsindonesia.net. Pada bulan Mei 2011, IPP menemukan beberapa internet service provider di Indonesia yang telah memblokir beberapa situs LGBT seperti ILGA dan IGLHRC. Kemudian pada Juli 2012, IPP bekerjasama dengan APC mengadakan workshop erotics Indonesia yang mengundang beberapa organisasi hak seksual seperti kelompok pekerja seks, LGBT, perempuan 21 positif HIV/AIDS dan lain-lain.

Dalam workshop ini dijelaskan tentang hak internet dikaitkan dengan isu seksualitas serta keamanan digital bagi para pesertanya. Pada November 2012, Erotics Indonesia bekerjasama dengan beberapa kelompok LGBT membawa isu perempuan dan LGBT dalam Indonesia Internet Governace Forum 2012 sebagai salah satu upaya advokasi akan hak internet dan seksualitas di Indonesia.